Oleh :NASRULLAH
Globalisasi telah menyebabkan dunia seakan sempit, nilai-nilai kebudayaan lokal semakin tersudut oleh kebudayaan barat yang terfasilitasi oleh media cetak, elektronik, maupun internet.
“Kecerdasan dalam kebudayaan kita tidak ada karena kelemahan kita melihat perbedaan”. Kata Ashad Kusuma Jaya, Budayawan asal Yogyakarta pada diskusi Manajemen Kebudayaan yang digelar Grendeng Institute di di Sekre HMI cabang Purwokerto, kelurahan Grendeng Purwokerto Utara (25/08).
Hilangnya makna-makna simbol yang selama ini menjadi kekuatan bagi masyarakat, juga perlu dipahami secara mendalam. Menurutnya, kebudayaan yang sudah tidak fungsional tidak perlu dipertahankan “kalau kebudayaan tidak berperan fungsional, kenapa perlu dipertahankan?”kata Pimpinan Padepokan Syeh Siti Jenar ini.
Menurutnya kebudayaan yang perlu dibangun saat ini adalah dengan melihat perbedaan secara cerdas, dan membuat perbedaan-perbedaan tersebut menjadi kekuatan “memahami perbedaan kebudaan yang ada, namun juga dibarengi membangun persamaan” kata Budayawan, yang juga penulis buku Natural Beauty, Inner Beauty ini. Persamaan yang dimaksud adalah kesamaan tujuan, tujuan bersama yang tidak lain adalah cita-cita bangsa ini.
Dan, Ashad menambahkan, kesamaan tersebut harus dimanifestasikan dalam bentuk karya bersama “bicaralah dengan bahasa kerja dan karya” kata mantan ketua HMI cabang Yogyakata periode 1996-1997 ini dalam bahasa puisi.
Seniman Kita Gagap Perubahan
Sementara, pada waktu yang sama, Jarot C Setyoko, Budayawan Banyumas mengatakan, bahwa kita perlu membangun budaya sendiri, format perlawanan terhadap globalisasi perlu kita rubah menjadi penyiasatan.
Jarot, yang juga wartawan Senior Radar Banyumas tersebut mengatakan, perlu bagi kita untuk membangun jejaring yang mempunyai energi sama untuk mensiasati globalisasi supaya kita tidak hanyut pada arus global saat ini.
Menurutnya, kebudayaan ini perlu dibangun lewat kesenian yang mampu mentransformasikan nilai-nilai luhur terhadap masyarakat sekitar. “Seniman kita gagap akan perubahan, kemampuan seniman untuk merefleksikan sejarah juga hilang, karena semua diorientasikan pada materi” katanya.
Oleh karena itu, menurut Jarot , realitas seperti ini tidak bisa dibiarkan. Membangun kesadaran kritis sangat diperlukan untuk mensiasati hal ini, namun bukan asal kritis yang asal menolak, tetapi meminjam energi mereka (globalisasi) untuk mewujudkan gerak keinginan kita, “katanya.
Kebudayaan Indonesia perlu dibangun dengan semangat nasionalisme, karena Indonesia sebagai negara belum selesai dalam menjamin kesejahteraan bagi rakyatnya “Nasionalisme, selain sebagai semangat perlawanan mengalahkan penjajah, juga merupakan sarana bagi kita untuk berpihak pada rakyat” kata Jarot, yang juga mantan aktifis mahasiswa ini.
* Penulis adalah pengurus Lapmi-Purwokerto
Sumber: http://hminews.com

Pandangan yang bagus bagi seorang budayawan demi terbentuknya bangsa ini kedepan.
terima kasih kunjungannya, ni di link balik juga ya
kebenaran (nilai) —> Norma —–> budaya
salam dari kami . Go ahead!
Ok… trimakasih juga. GO AHEAD!!
Ketika kita berbicara mengenai budaya,alangkah bijak klo kita pahami esensi dr budaya yg hendak di perbincangkan tsb. Bnyk pihak yg mendewakan dan menuhankan budaya,padahal budaya adalah ciptaan manusia, dan tdk smua pencipta budaya itu agung spt yg kt bayangkan. Bagi saya,klo ada orang yg sgt menuhankan budaya di atas segalanya adalah seorang yg beridealisme picik. Dan tentu saja sbnrny mrk cari aman,klo sewaktu2 bs gunakan budaya sbg tameng atas perbuatan yg tdk beradab.
sebelumnya admin minta maaf dah lama gak OL… yup, saya setuju dengan pean mbak.. analisa kritis mengenai kebudayaan penting sekali, demi kebudayaan itu sendiri dan kehidupan, tentunya kita tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat.. wallahu a’lam bisshawab