Oleh: Dr.Galih Endradita M.
“ Media pengembangan profesi kesehatan berbasis Pelayanan Medis yaitu Rumah Sakit ataupun Poliklinik merupakan hal yang realistis bagi kader kesehatan HMI, budaya pelayanan kesehatan yang dilakukan tentulah perlu diwadahi dalam sebuah kelembagaan kesehatan yang professional (GALIH)”
Assalamualaikum,
HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) merupakan organisasi berbasis kemahasiswaan tertua dan terbesar di Indonesia. Sejak didirikan oleh Lafran Pane, HMI telah melahirkan begitu banyak alumni yang tersebar di seluruh Indonesia dan merata pada hampir seluruh strata tatanan masyarakat. Kuantitas yang begitu besar, diimbangi oleh kualitas kader yang begitu baik, menunjukkan sebuah keseimbangan organisasi yang mapan, sampai hari ini, telah menyebar pada seluruh wilayah Indonesia dan merambah semua pusat kemahasiswaan baik Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta.
Kelembagaan HMI yang mengusung idealisme gerakan kemahasiswaan dan kepemudaan memiliki sayap gerakan yaitu lembaga pengembangan profesi. Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) merupakan lembaga untuk mempersiapkan kader HMI menjadi professional pada lapangan studi kader. Terdapat banyak LPP sebut saja LKMI (Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam), LTMI (Lembaga Tehnologi Mahasiswa Islam), LDMI (Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam), LAPMI (Lembaga Pers Mahasiswa Islam) dan LPP lain sesuai dengan keseminatan profesi yang dimiliki kader. LPP pada tingkatan Pengurus Besar atau dikenal dengan Bakornas (Badan Koordinasi Nasional) bersinergis dengan Pengurus Besar HMI, pada tingkatan cabang juga bersinergis dengan struktur HMI setingkat.
Sebagai sayap pengembangan profesi, LPP kerap bersinggungan dengan profesi secara umum. Pada wilayah kesehatan Bakornas LKMI dan LKMI HMI Cabang akan menjalin kemitraan dengan lembaga kesehatan baik formal dan Informal. LPP Bakornas LKMI PB HMI dan LKMI HMI Cabang terbentuk dari keseminatan profesi kesehatan dengan sumber daya mahasiswa kedokteran, kedokteran gigi, farmasi, kesehatan masyarakat dan keperawatan. Modalitas kader kesehatan yang pada akhirnya menjadi profesi dokter, dokter gigi, apoteker dan lainnya mempunyai nilai plus tersendiri bagi institusi HMI. Pada tataran praxis HMI menjadi begitu mudah melakukan kegiatan social baik bakti social pengobatan massal, khitanan massal, bahkan penanggulangan dampak bencana alam.
Fase kemahasiswaan kader HMI secara umum dan kader LKMI secara khusus pada akhirnya akan selesai, seorang kader akan menapaki jenjang profesi yaitu kesehatan (dokter, dokter gigi, apoteker dan kesmas) dan bekerja sebagai professional. Beberapa LKMI HMI Cabang seperti LKMI HMI Cabang Surabaya, Malang, Solo dan Semarang mencoba menangkap konstruksi ini dalam bentuk pelayanan kesehatan seperti Rumah Sakit Bersalin, Unit Gawat Darurat dan Poliklinik kecil. Bagaimanapun konstruksi LKMI HMI Cabang, mereka mencoba menangkap modalitas dokter ataupun dokter gigi sebagai sarana pengkaderan dan profit bagi kelembagaan LKMI. Hanya saja, modalitas ini hasil kerjasama antara LKMI HMI Cabang dengan institusi eksternal semisal ; Rumah Sakit Islam dan Rumah Sakit Muhammadiyah (Surabaya dan Malang), Yayasan Sosial (Solo dan Semarang), hubungan kerjasama ini sebagai keniscayaan karena LKMI HMI meluluskan tenaga dokter dan dokter gigi plus (telah terdidik managemen dan organisasi), notabene keunggulan ini jarang dimiliki oleh dokter atau dokter gigi lain. Potensi ini kita sadari atau tidak, inilah potensi yang kita miliki dan dapat digerakkan menjadi sebuah jaringan kesehatan yang luas. Kajian internal Bakornas LKMI PB HMI menguatkan pendapat bagaimana mengubah potensi ini menjadi kekuatan luar biasa yang menggerakkan organisasi LKMI dan HMI secara umum.
Masih jelas dalam ingatan kita, badai krisis ekonomi yang melanda bangsa pada tahun 1998 dimana struktur atau bangunan ekonomi mengalami kemunduran dan terpukul. Sector kesehatan tetap stabil seakan-akan tidak terpengaruh oleh krisis tersebut. Fenomena ini secara pelan dan pasti menyebabkan bisnis kesehatan menjadi sector primadona yang mengundang investor untuk masuk dan melakukan investasi. Bisnis kesehatan tetap stabil lebih dikarenakan bangunan kesehatan merupakan bangunan jasa yang demand –nya stabil. Sehingga investasi pada sector kesehatan, merupakan investasi yang cukup menarik.
Mencoba kembali pada konteks LKMI, lembaga kesehatan professional berupa Rumah Sakit ataupun Poliklinik mempunyai nilai plus dalam beberapa kerangka dasar sebagai berikut :
A. MEDIA PROMOSI KADER
Dinamika kemahasiswaan dalam beberapa kajian mengalami beberapa perubahan mendasar. Pada decade 80-an, mahasiswa begitu mudah untuk berbicara, dan bergerak secara massif dalam kontruksi idealisme organisasi kemahasiswaan. Namun, saat ini mengalami pergeseran. Komunitas mahasiswa lebih mudah digerakkan apabila organisasi berbicara bagaimana meningkatkan kapasitas akademis dan profesi, setelah itu baru kemudian dimensi organisasi secara managemen dan kepemimpinan diperkenalkan secara bertahap. Organisasi harus bisa membaca student college needed kemudian melakukan kaderisasi organisasi, bila ini dilakukan maka organisasi akan eksis, begitupun sebaliknya. Bagi HMI dan LKMI HMI hal ini tercetak tebal, segmentasi Rumah Sakit ataupun Poliklinik menjadi nilai plus dan menjadi daya tarik kader untuk bergabung dalam HMI.
B. MEDIA KADERISASI
Rumah Sakit ataupun Poliklinik dalam kelembagaan LKMI HMI merupakan miniature Rumah Sakit Pendidikan pada struktur Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi. Konteks rumah sakit pendidikan merupakan media kegiatan pembelajaran ketrampilan medik dan human relations. Ketika HMI menyebut dirinya sebagai second university tidak berlebihan bila kita menyebut LKMI sebagai second teaching hospital dimana LKMI secara kelembagaan dapat memberikan nilai plus pendidikan profesi. Keutamaan ini yang kemudian akan membedakan HMI dengan organ kemahasiswaan lain, metodelogi yang akan menjaga arus kaderisasi dalam tubuh HMI dan LKMI secara khusus.
C. MEDIA PROFIT ORGANISASI
Sektor kesehatan secara makro merupakan sector yang menjanjikan, ketahanan menghadapi fluktualitas ekonomi menjadikan sector ini banyak diminati pemilik modal. Ketika kita jabarkan pada tataran LKMI, maka poliklinik ataupun Rumah Sakit dapat memberikan income bagi organisasi, sehingga pendanaan organisasi akan selesai. Kita ketahui bersama, hari ini pendanaan HMI lebih pada sumbangsih yang tulus dari Alumni HMI dan bantuan swasta. Bila di analisa secara detail, akan muncul kesimpulan bahwasanya HMI bukanlah organisasi yang mandiri secara financial, sedangkan kemandirian financial merupakan ciri organisasi yang mapan . Apology bahwasanya beginilah realitas organisasi kemahasiswaan harus kita dekontruksi kembali, karena bagaimana kita mengharapkan HMI dapat menjadi harimau yang dengan idealisme menerkam dan menerjang apabila ia tidak memiliki kemandirian dalam anggaran pembelajaan organisasi. Sektor kesehatan memberikan sebuah alternative solusi untuk menjawab permasalahan ini.
D. MEDIA PENGABDIAN MASYARAKAT
Mahasiswa pada hakikatnya mempunyai 2 dimensi, ibarat mata uang ia tidak terpisahkan. Dimensi akademik dan profesi yang pragmatis pada satu sisi, dan dimensi organisasi kepemimpinan yang idealisme pada sisi lain. Terima kasih yang tak terhingga saat founding father HMI menangkap dimensi ini dengan dilahirkannya lembaga kekaryaan atau lembaga pengembangan profesi. Secara ideal diharapkan terdapat sebuah keseimbangan antara retorika utopis wacana dan tataran aksi pengabdian kepada masyarakat. meminjam istilah “berfikir tentang langit, tetapi kaki tetap menginjak tanah” Permasalahan kebangsaan hari ini tidak bisa kita selesaikan dalam kerangka wacana dan konseptual semata, perlu langkah-langkah pendampingan membumi untuk bersama masyarakat membangun kemandirian. Apabila organisasi mempunyai keseimbangan antara keduanya maka kinerja organisasi akan lebih didengarkan, HMI melalui LPP mempunyai potensi menetapkan keseimbangan ini.
E. MEDIA SILATURAHMI DAN JARINGAN KESEHATAN
Jaringan kesehatan hakikatnya adalah jaringan alumni professional pada konteks kesehatan. Jaringan alumni merupakan media silaturahmi, mengangkat harkat dan martabat saudara kita. Istilah saling berpegangan erat, melindungi satu sama lain merupakan makna persaudaraan diantara kita saudara muslim dan diantara kita saudara HMI. Bangunan silaturahmi ini merupakan bentuk soliditas yang menjadi modal utama saat kader HMI menapaki langkah pasca dunia kemahasiswaan. hubungan pribadi dalam organisasi merupakan embrio hubungan bisnis yang saling menguntungkan pada kemudiaan hari. Jaringan kesehatan pada tataran LKMI tersirat dari bisnis kesehatan yang kita kembangkan, terutama bagaimana kita menampung kader profesi kesehatan sehingga alih alih digunakan dan diperkerjakan oleh institusi lain, mengapa tidak kita mintai bantuan untuk mengembangkan centre kesehatan yang kita miliki.
Media pengembangan profesi kesehatan berbasis Pelayanan Medis yaitu Rumah Sakit ataupun Poliklinik merupakan hal yang realistis bagi kader kesehatan HMI, budaya pelayanan kesehatan yang dilakukan tentulah perlu diwadahi dalam sebuah kelembagaan kesehatan yang professional. Tentunya sebuah Rumah Sakit Insan Cita bukanlah sebuah mimpi yang utopis, tetapi kenyataan yang tertunda. Kapan kah itu terjadi, semoga Allah SWT meridhoi langkah kita. Amin
Billahittaufiq wal hidayah,
Wassalamualaikum Wr Wb
*Penulis adalah (Ketua Umum/Direktur Bakornas LKMI PB HMI)

mohon doa restu rekan-rekan semua
amiin.. insyallah semua bisa terwujud.. ma’annajah